Menjadi Seorang Fasilitator

Ternyata menjadi fasilitator itu tidak semudah yang dibayangkan. Sore tadi, dosen saya membahas tentang bagaimana menjadi seseorang yang dapat mengajak orang lain untuk belajar. Inilah tujuan fasilitator, bukan untuk mengajar tetapi menumbuhkan semangat akan berilmu. Berbeda dengan guru yang mengutamakan kebijaksanaan dalam pengajaran. Makanya, guru itu patut dihormati.

Kesadaran masyarakat akan pendidikan masih banyak yang perlu dibenahi. Wilayah urban atau sub urban pun belum tentu mengedepankan pendidikan. Itulah sebabnya, masih banyak anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah karena figur terdekat mereka seperti orangtua tidak terlalu memberikan dukungan akan pentingnya pendidikan. Maka dari itu, hal paling penting yang harus dijadikan tujuan akhir adalah awareness atau kesadaran akan pendidikan.

Dosen saya mengatakan dua komponen penting dalam menjadi seorang fasilitator. Pertama, seorang fasilitator harus memiliki antusiasme. Seorang fasilitator harus menebarkan semangat dan gairahnya dalam mengajak orang lain untuk mau belajar. Dengan antusias yang tinggi, segala bentuk aktivitas terasa menyenangkan. Kedua, seorang fasilitator harus memiliki kepedulian. Sikap perhatian terhadap keadaan sekitar menjadi hal penting untuk menumbuhkan kesadaran dan semangat belajar.

Selama tujuan akhir dalam sebuah pendidikan maupun pembelajaran telah ditetapkan, maka hal-hal yang berkaitan dengan teknis akan terasa mudah dijalankan. Dalam hal ini, kesadaran akan pendidikan sebagai tujuan akhir memengaruhi materi-materi yang akan diberikan dalam proses pembelajaran. Rumus telah ditetapkan, bahwa menjadi seorang fasilitator memerlukan spirit and caring.

Surabaya, 3 Muharram 1440.

 

 

Advertisements

Teguran di Awal Semester

Tiga belas hari yang cukup memusingkan ini ternyata membawa saya pada pelajaran diri lainnya. Tepat tiga hari yang lalu saya kehilangan kunci kamar yang sampai saat ini tidak terdeteksi di mana letaknya. Kisah saya bermula ketika hendak pulang selepas kerja kelompok bersama kawan-kawan. Lalu, pikiran saya seketika berubah menjadi alur mundur, mengingat-ingat kembali apa yang saya lakukan hari itu.

Malam sebelumnya, saya memang kurang tidur karena mengerjakan suatu tugas. Bukan karena tenggat waktu semakin dekat tetapi saya tidak ingin tugas itu menghantui pikiran saya. “Ah nanggung, kelarin aja sekalian” kata saya dalam hati, agak sombong. Mendekati waktu dini hari, saya sempatkan untuk memejamkan mata kurang lebih dua jam.

Pagi tiba, saya memantapkan diri untuk berolahraga selepas melakukan ibadah. Setelah puas setelah mengelilingi rumah-rumah dan bertegur sapa dengan warga, saya mandi dan berniat berangkat kuliah selepas itu. Akan tetapi, kedua mata ini menolak. Akhirnya saya urungkan niat itu dan istirahat sejenak di atas kasur. Pukul 10.17 pun tiba, dan ada satu missed call dari sahabat saya. Continue reading “Teguran di Awal Semester”

Different but Together: Sebuah Resume Diskusi

Dirgahayu Indonesiaku. Di hari milad ke-73 ini, saya ingin berbagi sedikit mengenai diskusi malam yang diadakan ARAH (Gerakan Airlangga Hijrah) yang juga didukung oleh UKMKI UNAIR. Selasa malam tanggal 14 Agustus lalu, Ustaz Marzuki Imron atau Ustaz Naruto memberikan materi di Masjid Nuruzzaman, Kampus B, UNAIR.

Di awal diskusi, Ustaz Naruto menjelaskan bahwa kondisi kita sekarang ialah berdebat masalah salat, wudu, dan sebagainya. Padahal ada kelompok di luar Islam yang sedang “menyerang” Islam. Kita diibaratkan sedang berperang dengan saudara sendiri walaupun itu adalah perang pemikiran atau ghazwul fikr. Continue reading “Different but Together: Sebuah Resume Diskusi”

Psikologi di Rumah Sakit: Sebuah Resume Seminar

Kurang lebih 13 kilometer yang ditempuh dan satu jam persiapan, seminar yang diselenggarakan oleh Pusat Studi dan Layanan Psikologi Universitas Negeri Surabaya memberikan pemahaman baru bagi saya. Akhir-akhir ini, saya berpikir ulang mengenai langkah yang akan diambil setelah lulus menjadi sarjana psikologi. Ternyata, izin bekerja dengan latar belakang psikologi di rumah sakit memiliki proses dan perjuangan yang cukup panjang.

Ibu Agustina Dwi Rachmawati, M.Psi., Psikolog yang merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada menjelaskan beberapa kompetensi lulusan sarjana maupun magister profesi psikologi yang ingin bekerja di rumah sakit. Selain asesmen, intervensi, psikodiagnostik, dan sebagainya, satu kompetensi yang seringkali disebutkan ialah pengetahuan mengenai peraturan ketenagakerjaan. Hal ini sering jadi kelemahan lulusan psikologi yang bekerja di rumah sakit. Continue reading “Psikologi di Rumah Sakit: Sebuah Resume Seminar”

Sedikit Perbincangan Malam

Kepindahan sesaat ke Negeri Jiran lalu kembali lagi ke Kota Pahlawan juga menimbulkan kepindahan lainnya. Beberapa minggu setelah lebaran, saya merasa seperti mahasiswa baru tanpa pengukuhan dan ospek. Kesamaan kami adalah berburu tempat tinggal. Dengan segala pertimbangan, saya pindah ke gang sebelah yang notabene tempat tinggal dua kawan saya dari Mojokerto. Hehehe, maaf ya bakal bosen banget liat aku lagi nih!

Foto di atas menggambarkan sedikit suasana area bazar Gubeng Kertajaya IX Raya. Setelah berkeliling di sana, Kung yakni pemilik tempat tinggal ini mengetuk lembut pintu kamar. Lalu, saya membukakan pintu untuk beliau. Kung meminta izin untuk masuk dan kami berbincang sekitar 15 menit. Dari percakapan tersebut, segala informasi yang ingin saya ketahui keluar dari mulut beliau. Untuk menjaga privasi, saya menyimpan informasi tersebut dalam memori. Dalam tulisan ini hanyalah sekadar respons dari perbincangan yang tak terduga tadi. Continue reading “Sedikit Perbincangan Malam”

Eksplorasi Kota Pelajar

Segala puji bagi-Nya, kali ini saya dan dua kawan hebat a.k.a Copi, sebuah nama panggilan untuk kami bertiga merealisasi rencana liburan yang kedua. Hasilnya, Yogyakarta keluar sebagai destinasi kami. Dari arah barat dan timur Pulau Jawa, kami bertemu di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di Kota Yogyakarta. Berhubung tidak ada kendaraan, sebagian besar perjalanan kami lakukan dengan berjalan kaki dan menggunakan angkutan online. Hehehe, biar sesuai dengan budget walaupun akhirnya kami patungan lagi. Nggak apa-apa, memori yang dibuat nggak akan bisa dibayar oleh apapun.

Continue reading “Eksplorasi Kota Pelajar”

Tumbuh dan Berkembang: Sebuah Opini

Sewaktu ‘mengobrak-abrik’ susunan buku di lemari kecil Ayah, mata saya tertuju pada buku ini. Lalu, Ayah sangat mengizinkan untuk menyelami tulisan yang ada di dalamnya. Maka dari itu, izinkan saya menyampaikan sedikit opini sebagai pembaca. Barangkali di bukunya boleh ditambahkan kolom ‘alumni’ Pak, hehehe!

Continue reading “Tumbuh dan Berkembang: Sebuah Opini”