Pendidikan sebagai Sarana Menuju Sehat Mental

Berbicara soal kesehatan mental, tidak terlepas dari psikologi sebagai ilmu yang mempelajari proses mental dan perilaku manusia. Karena itu dosen saya selalu bilang, “Selama ada manusia, saat itulah psikologi bisa memberikan kontribusinya.” Asyiknya lagi, manusia sering ikut campur urusan yang ada di dunia. Nggak heran, karena manusia diciptakan untuk menjadi KHALIFAH di muka bumi. Entah kontribusi mereka membuat dunia menjadi lebih baik atau lebih buruk, itu urusan lain.

Karena banyak sekali urusan manusia di dunia, psikologi sebagai ilmu yang “objeknya adalah manusia” juga memiliki berbagai macam cabangnya. Sebagai penikmat bidang psikologi pendidikan dan perkembangan, saya jadi mikir, “Apa ya hubungannya kesehatan mental dengan praktik pendidikan kita?” Hayuk ikutan mikir sebelum baca ke postingan selanjutnya…

Mengutip dari kamus bahasa kita, pendidikan adalah proses pengubahan SIKAP DAN TATA LAKU seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia. Nah dari situ keliatan, ada kata kunci yang sama kayak psikologi. Keluhannya adalah saya pernah merasakan dampak nggak enaknya praktik pendidikan di Indonesia. “Emang gimana pengalamanmu, Din?”

PERTAMA, soal sekolah ibarat perusahaan. Masih banyak sekolah-sekolah yang menyeleksi calon siswa begitu ketat. Apalagi untuk sekolah unggulan, kalo calon siswanya tidak diterima, sikap percaya diri mereka akan menurun dan muncul istilah bahwa “sekolah unggulan hanya untuk anak-anak pintar”. Padahal, anak-anak ini mau BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI, bukan melamar pekerjaan dan dituntut punya kompetensi.

KEDUA, masih ada anggapan bahwa prestasi adalah bukti kalo sekolah berhasil mendidik para siswa. Mereka yang tidak berprestasi dianggap produk gagal. Sekolah ibarat menciptakan ilusi menang-kalah seolah jika kita menang maka kita adalah “nomor satu”. Yang ada, bukannya menang tapi mental kalah karena BERLOMBA-LOMBA PADA KEMENANGAN BUKAN KEBAIKAN. Padahal, ada semangat kerjasama yang seharusnya ditumbuhkan daripada kemenangan yang tak bermakna.

KETIGA, soal pembelajaran di kelas. Saya pernah merasakan belajar dengan mendengarkan ceramah selama 80% dari waktu pembelajaran. Ini salah satu penyakit DISTEACHIA. Sisanya, saya mengerjakan tugas yang diberikan guru. Dampaknya, saya tidak memahami apa gunanya mata pelajaran tersebut di kehidupan. Sekolah ibarat mesin yang sudah diatur sedemikian rupa: guru mengajar, siswa mendengar. Padahal, keberhasilan guru mengajar dilihat dari bagaimana ia bisa memfasilitasi seluruh gaya belajar siswanya.

Dari ketiga keluhan ini, pendidikan bagi saya turut memberikan dampak mental. Tumbuhlah sikap kurang percaya diri karena mental kalah dan pasif. Jika generasi kita mempertahankan sikap semacam ini, saya nggak yakin bisa ikut campur urusan dunia. Yang ada bisa stres, semangat dari dalam diri aja nggak ada, sampai-sampai (naudzubillah min dzalik) jadi depresi dan mengakhiri hidupnya sendiri.

Untungnya, masih ada orang-orang yang prihatin atas keluhan saya. Makanya, berdirilah berbagai macam “sekolah yang memerdekakan” dan “sekolahnya manusia”. Sekolah-sekolah ini bukan sekadar mendidik siswa tetapi juga melibatkan guru, orang tua, dan lingkungan sebagai kontributor untuk generasi yang lebih baik. Karena sejatinya, PENDIDIKAN ADA DI SETIAP HEMBUSAN NAPAS KITA bagi orang-orang yang mau berpikir.

Maka dari itu, ayo sama-sama kita berpikir dan punya cita-cita. Entah mau menghapus stigma ODGJ, menciptakan komunitas literasi kesehatan mental, bahkan mendirikan perusahaan yang tepat untuk manusia-manusia hebat. Jangan lupa, cita-cita akan sia-sia tanpa TINDAKAN.

Kalo saya sendiri sih, bercita-cita tinggal di desa dan mendirikan pusat belajar di sana. Salah satu bentuk aksinya dengan membuat tulisan ini. Siapa tau ketemu orang yang punya kesamaan visi dan bisa bekerja sama mendirikan pusat belajar nanti (mohon di-aamiin-kan ya)…

Pesan terakhir, keluhan saya mohon JANGAN DIGENERALISASIKAN. Saya hanya mahasiswi kurang ilmu yang ingin berbagi opini dan pengalaman pribadi. Saya yakin di luar sana sudah banyak sekolah yang mementingkan PROSES BUKAN HASIL. Saya juga yakin pemerintah kita sedang berusaha mempraktikkan pendidikan yang lebih baik. Wallahu a’lam bishshawab.

Author: Ardiana Meilinawati

Indonesia, 1420. Mengaku seorang petualang yang sedang berhijrah menuju kehidupan abadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s