Pengasuhan Positif untuk ABK

Tepat tanggal 12 Oktober 2019, ada hal yang unik di fakultas. Saat dosen mengadakan seminar tentang anak gifted di lantai bawah,mahasiswa juga nggak mau kalah dengan mengadakan talkshow tentang pengasuhan ABK di lantai atas. Pemateri pada talkshow hari itu ialah salah satu dosen dari Fakultas Psikologi UNAIR dan perwakilan orang tua dari Yayasan Peduli Kasih ABK. Tujuannya, supaya audiens belajar tidak hanya dari segi teoretis tapi juga aplikasinya secara nyata di masyarakat.

Mengasuh ABK tidak semudah yang dibayangkan. Mengasuh anak normal saja sudah cukup kewalahan, apalagi mengasuh ABK. Tetapi, hal tersebut bukan berarti membedakan teknik pengasuhan yang dilakukan. Dari sesi talkshow kemarin, pada dasarnya pengasuhan ABK sama saja dengan anak normal. Hanya saja, orang tua dan lingkungan sekitar harus lebih peka karena ABK memiliki kebutuhan khusus yang perlu kita THD. Mengutip dari pemateri, THD ialah singkatan dari Terima, Hargai, Dukung.

Manusia memang memiliki tendensi untuk selalu melihat kekurangan. Dalam psikologi, ada suatu pendekatan yang mendorong kita untuk memaksimalkan kelebihan yang ada yakni appreciative inquiry. Sama halnya dengan ABK, kita perlu mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya, bukan melihat kekurangannya. Kalau kita hanya fokus pada kekurangannya, tentu ABK akan tumbuh menjadi anak yang pesimis dan tidak punya tujuan hidup karena mereka merasa tidak bisa seperti anak-anak normal.

Apa yang dijelaskan dalam teori, ternyata benar-benar terjadi dalam dinamika pengasuhan yang dialami orang tua ABK. Pada umumnya, orang tua ABK akan mengalami dinamika penerimaan terhadap kondisi anaknya sesuai dengan Kubler-Ross Grief Cycle. Meskipun begitu, jika keluarga selalu menanamkan sikap positif maka pengasuhan ABK dapat dilakukan dengan baik. ABK pun dapat tumbuh dengan potensi yang dimilikinya.  Sayangnya, keluarga khususnya orang tua yang selalu bersikap positif dalam mengasuh ABK hanya sekian persen. Perlu adanya psikoedukasi mengenai pengasuhan ABK yang baik. Maka dari itu, salah satu tugas mahasiswa adalah terus belajar dan melakukan edukasi di masyarakat. Hal ini juga dapat menurunkan stigma terhadap ABK dan orangtua. Pengasuhan menjadi tugas kita bersama karena tidak hanya peran orang tua yang dibutuhkan tetapi juga lingkungan sekitar.

Mari sama-sama kita wujudkan lingkungan yang ramah ABK! 🙂

 

 

Author: Ardiana Meilinawati

Indonesia, 1420. Mengaku seorang petualang yang sedang berhijrah menuju kehidupan abadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s