Jalan-jalan ke Negeri di Atas Awan

Sampailah saya di akhir semester tujuh yang penuh perjalanan ini. Mulai dari hiking ke Penanggungan, ikut konferensi di Semarang, lomba di Jakarta hingga berkunjung ke ‘Negeri di Atas Awan’ alias Dataran Tinggi Dieng. Tulisan ini akan berbagi sedikit soal bagaimana kami (saya dan sahabat saya) bisa sampai ke Dieng. Sebelumnya, maaf jika waktu dan biaya perjalanan tidak semuanya pasti karena saya pun lupa-lupa ingat. Ditambah lagi ada drama kecil yang nanti kawan-kawan akan tahu sendiri. Estimasi biaya yang saya tuliskan adalah untuk 1 orang. Semoga pembaca semua bisa berkesempatan menghirup udara segar di sini! 🙂

Surabaya-Magelang

Rute pertama kami lakukan dengan naik kereta dari Surabaya ke Yogyakarta. Perjalanan ditempuh kurang lebih 5 jam 30 menit. Sesampainya di Stasiun Lempuyangan, kami mencari halte bus TransJogja. Sayangnya, nggak ketemu yang terdekat… akhirnya kami putuskan untuk naik taksi online menuju Terminal Jombor. Perjalanan dari Lempuyangan ke Jombor memakan waktu sekitar 20 menit.

Sesampainya di Jombor, kami naik bus jurusan Magelang. Tidak sulit untuk menemukan bus tersebut karena orang-orang di sekitar terminal biasanya langsung menanyakan ke mana kita pergi. Perjalanan dari Jombor ke Terminal Tidar Magelang memakan waktu sekitar 1 jam.

Biaya yang dikeluarkan:

Surabaya-Yogyakarta: Rp 88.000

Lempuyangan-Jombor: Rp 20.000

Jombor-Tidar: Rp 12.500

Magelang-Wonosobo-Dieng

Dari Terminal Tidar, kami melanjutkan perjalanan ke Terminal Mendolo, Wonosobo. Biasanya bus menuju Wonosobo ini ukurannya lebih kecil (mikrobus). Perjalanan menuju Mendolo memakan waktu sekitar 3 jam.

Rintik hujan mulai turun perlahan ketika kami sampai di Terminal Mendolo. Setelah istirahat sebentar dan salat, kami lanjut naik bus ke Dieng. Drama kecil kami bermulai di sini… kami salah menaiki bus. Kawan-kawan perlu berhati-hati karena ada kondektur yang mengiyakan busnya menuju Dieng, padahal aslinya Purwokerto 🙂

Sambil minta maaf dan kembali mencairkan suasanya, sang kondektur menurunkan kami di perempatan menuju Dieng. Lalu, kami kembali menaiki mikrobus menuju Dieng setelah menunggu kurang dari 1 menit di perempatan. Tepat pukul 17.00, kami sampai di depan BRI Dieng yang dekat dengan penginapan. Estimasi waktu dari Mendolo ke Dieng ialah 1 jam 30 menit.

Biaya yang dikeluarkan:

Tidar-Mendolo: Rp 25.000

Mendolo-Perempatan: Rp 5.000

Perempatan-BRI Dieng: Rp 20.000

Dieng dan Sekitarnya

Alhamdulillah, kami bernapas lega sesampainya di penginapan. Tapi… drama kecil kami dimulai lagi. Kawan-kawan perlu perhatikan bahwa tidak semua penginapan nyaman di sini. Sebagian besar konsepnya adalah homestay dengan keadaan kamar yang cukup sederhana. Kebetulan kami dapat kamar yang kurang ventilasi dan lembab sehingga agak tidak nyaman. Ditambah lagi… kami kurang nyaman satu kamar mandi dengan pengunjung laki-laki lainnya di kamar lain. Hasilnya, kami pindah penginapan di dua malam berikutnya 🙂

Sembari mencari tempat sewa motor, kami mencicipi mi ongklok di Kedai Ongklok. Saya sarankan kawan-kawan mencoba mi khas Dieng ini. Hangatnya cukup menghilangkan rasa menggigil saya malam itu. Setelah menemukan sewa motor, kami tertidur lelap hingga esok pagi.

Hari pertama, kami menjelajahi Dieng dengan rute berikut:

  1. Desa Sembungan. Ini letak desa tertinggi di pulau Jawa. Suguhan wisatanya adalah pemandangan indah dari landscape-nya Dieng. Pos pendakian Gunung Sikunir juga berada di sini.
  2. Telaga Cebong. Letaknya tepat di samping pos pendakian Gunung Sikunir. Telaganya asri dan tenang, cocok buat merenung di sana…
  3. Kawah Sikidang. Salah satu bukti Dataran Tinggi Dieng ini sebenarnya masih aktif. Tenang, kandungan karbondioksida yang tidak terlalu tinggi membuat kawah ini aman untuk dikunjungi. Bisa coba telur rebus kawah di sini!
  4. Bukit Batu Pandang. Wisata ini jadi salah satu favorit saya. Perlu menaiki beberapa tangga selama 5 menit untuk sampai di Batu Ratapan Angin. Benar-benar spot yang bagus untuk foto dengan latar belakang Telaga Warna dan dataran sekitar.
  5. Telaga Warna. Kata salah satu warga Dieng, telaga ini lebih indah lagi dikunjungi pada pukul 07.00-08.00 WIB. Pada saat itulah telaga akan memiliki beberapa warna akibat pantulan sinar matahari. Tapi berkunjung selain pada jam tersebut juga tetap membuat telaga ini keren!
  6. Kompleks Candi Arjuna. Balik lagi belajar sejarah. Katanya Dieng jadi salah satu tempat persebaran pertama agama Hindu di Indonesia. Tempatnya enak buat bersantai juga.
  7. Telaga Menjer. Kalau ini spot favoritnya sahabat saya. Sebenarnya bisa menikmati telaga sembari naik perahu. Tapi karena bukan musim liburan… sepi banget. Hasilnya, hanya kami berdua yang puas di sana.
  8. Gardu Pandang Tieng. Sebenarnya ini spot pengganti sunrise di Gunung Sikunir. Saking tidak ingin melewatkan setiap list wisata, kami pun mengunjunginya di sore hari. Akibat cuaca mendung, sunset tidak terlalu kelihatan. Tidak apa-apa, tetap nggak bosan melihat pemandangan dataran di sini!

Eksplorasi hari pertama kami mulai dari pukul 07.30-12.00 WIB untuk destinasi 1-6. Ini menyimpulkan bahwa antar tempat wisata tidak terlalu jauh jaraknya. Sore hari, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi 7-8 yang letaknya agak jauh. Dari pukul 16.00-18.00 WIB, kami merehatkan diri untuk salat di salah satu masjid. Lalu, kami makan malam dengan menu mi ongklok (lagi) dan segelas minuman hangat.

Eksplorasi hari kedua kami lanjutkan dengan mengejar sunrise ke Gunung Sikunir. Pukul 04.00 kami berangkat di pos pendakian di Desa Sembungan. Perjalanan dari pos ke puncak memakan waktu 30 menit saja. Alhamdulillah, kami berhasil sampai di sana!

Setelah turun, kami menikmati gorengan dan minuman hangat. Lalu, kami melanjutkan perjalanan ke Dieng Plateau Theatre. Film dokumenter tentang sejarah Dieng ini cocok banget buat menutup perjalanan… Oh iya sedikit catatan, untuk menikmati dokumenternya minimal 5 orang yang masuk. Karena kami cuma berdua, Bapak penjaga loket memberikan keringanan tetapi harus membayar untuk 3 orang 🙂

Biaya yang dikeluarkan:

Penginapan malam ke-1: Rp 118.000

Penginapan malam ke-2: Rp 190.000

Sewa motor: Rp 100.000/motor/1 1/2 hari (ini dapat diskon dari pemilik)

Tiket Kawah Sikidang: Rp 10.000

Tiket Bukit Batu Pandang: Rp 11.500

Tiket Telaga Warna: Rp 14.000 (termasuk parkir)

Tiket Kompleks Candi Arjuna: Rp 9.000 (termasuk parkir)

Tiket Telaga Menjer: Rp 5.000

Tiket Gunung Sikunir: Rp 12.500 (termasuk parkir)

Tiket Dieng Plateau Theatre: Rp 16.500 (termasuk parkir)

Mi Ongklok: Rp 15.000

Kalau kita total… perjalanan one way dari Surabaya menuju Dieng dan eksplorasi di sekitarnya adalah Rp 672.000. Berdasarkan pengalaman kami dengan tambahan biaya makan, jajan, beli oleh-oleh, dan menginap 1 malam di Yogyakarta hingga kembali ke rumah… memakan biaya sekitar Rp 1.000.000. Tapi, menurut kami semua itu sebanding dengan serunya backpacking trip kali ini! Hal penting yang perlu diingat: nyari penginapan nyaman dan low budget (di bawah Rp 150.000) di Dieng susah… serta jangan lupa sedia jas hujan sebelum diterjang 🙂

Author: Ardiana Meilinawati

Indonesia, 1420. Mengaku seorang petualang yang sedang berhijrah menuju kehidupan abadi.

One thought on “Jalan-jalan ke Negeri di Atas Awan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s