Tips Jualan Kelas Muslim Menengah

Whoa, sudah lama saya tidak menulis di blog pribadi. Beberapa bulan ini saya memfokuskan diri untuk menerbitkan 1 buku fiksi dan 1 buku nonfiksi. Mohon doanya dan para pembaca harus jadi salah satu pembelinya… hehehe. Awal tahun ini tidak begitu padat bagi saya yang hanya ikut 2 mata kuliah dan mengerjakan skripsi. Agak membosankan sebenarnya, apalagi saya baru saja ditolak menjadi salah satu content writer intern. Ini kedua kalinya saya ditolak. Selain mencoba apply ke start up maupun perusahaan, saya juga memanfaatkan waktu ini untuk membaca buku. Kali ini, saya mau mengulas sedikit tentang buku Marketing to the Middle Class Muslim karya Yuswohadi, dkk. (2014).

Buat orang seperti saya yang awam dalam bidang pemasaran, buku ini cukup mudah dipahami karena tidak banyak istilah ekonomi yang sulit dimengerti. Bagian pertama menjelaskan tentang perubahan perilaku konsumen khususnya muslim kelas menengah di Indonesia. Kenapa ya muslim? Sederhana saja, karena 84% konsumen di Indonesia itu adalah muslim. Yuswohadi, dkk. menyebutkan fenomena tersebut yakni:

  1. Revolusi hijab. Banyak orang berbondong-bondong memakai hijab karena semakin modern dan trendy. Mereka juga dipengaruhi oleh public figure yang memakai hijab.
  2. Umrah. Zaman sekarang, pergi umrah sekaligus liburan berkali-kali sudah menjadi hal yang biasa. Betul nggak?
  3. Makanan halal
  4. Kosmetik halal. Yuswohadi, dkk. menyebutnya Wardah effect. Semenjak produk Wardah muncul dan menjadi pioneer kosmetik halal, banyak merek kosmetik konvensional yang juga berburu label halal dari Majelis Ulama Indonesia.
  5. Bank syariah
  6. Asuransi dan investasi syariah
  7. Budaya Islam pop. Musik-musik Islam kini mengalami akulturasi dengan budaya pop. Band rock seperti Ungu saja juga mengeluarkan album religi lho.
  8. Hotel syariah
  9. Islamic parenting. Saya pernah menemukan buku yang menggabungkan pendekatan pengasuhan dalam Islam dan pendekatan Montessori (barat).
  10. Zakat dan sedekah
  11. Masjid dan musala

Uniknya kata Yuswohadi, dkk., riset menyebutkan semakin tinggi pendapatan per kapita maka semakin sekuler pula pola pikir konsumennya. Mereka semakin tidak memperhatikan spiritual value dalam membeli produk. Di Indonesia justru berlawanan! Semakin tinggi pendapatan per kapita di negara kita, semakin religius pula konsumennya. Paradoks ya.

Dalam menanggapi fenomena di atas, Yuswohadi, dkk. membagi empat sosok konsumen muslim di Indonesia:

  1. Apatis. Konsumen jenis ini tidak memerhatikan functional/emotional value maupun spiritual value dari sebuah produk. Bagi mereka, mendapatkan yang haram saja susah, apalagi yang halal. Mereka cenderung memiliki pola pikir, “Emang gua pikirin”.
  2. Rasionalis. Pada orang yang rasionalis, mereka sangat mementingkan functional/emotional value dari sebuah produk. Mereka akan bertanya-tanya, apa hal yang bisa didapatkan dari produk ini ketimbang spiritual value-nya. Maka dari itu, mereka kurang memerhatikan nilai-nilai religiusitas dalam membeli barang.
  3. Konformis. Jenis yang satu ini menekankan bahwa barang yang dibeli harus sesuai dengan kaidah Islam. “Pokoknya harus Islam!”, begitu kata mereka. Orang-orang konformis cenderung kurang terbuka dengan hal-hal selain Islam.
  4. Universalis. Konsumen yang universalis memiliki pola pikir yang terbuka. Mereka menilai Islami itu lebih penting. Contohnya, ketika suatu produk tidak berlabel halal tetapi kandungan yang di dalamnya tidak melanggar syariat, mereka akan tetap membelinya.

Dari keempat matriks konsumen tersebut, Yuswohadi, dkk. memberikan 6 prinsip dalam melakukan pemasaran pada konsumen muslim kelas menengah:

  1. Customer. Seperti pernyataan yang paradoks tadi, para pemasar harus memperhitungkan spiritual value dalam produk mereka untuk menarik minat konsumen.
  2. Competition. Suatu produk perlu memiliki brand persona.
  3. Positioning. Produk para pemasar harus menjadi inclusive brand yang bisa menarik semua kalangan, tidak hanya kelas muslim saja.
  4. Differentiation. Suatu produk harus menjadi authentic brand, entah itu memiliki suatu kekhasan/orisinalitas atau minimal setara dengan produk lainnya.
  5. Value. Produk para pemasar harus memiliki universal value dalam artian tidak hanya spiritual value tetapi juga functional/emotional value.
  6. Engagement. Para pemasar perlu melakukan pemasaran berbasis komunitas (community marketing). Word-of-mouth dari satu konsumen ke konsumen lain tentu memberikan dampak yang positif terhadap penjualan produk.

Setelah membaca buku ini, saya cukup terkesima dengan hasil riset yang dilakukan penulis. Jadi, buku ini nggak cuma ngomong soal fakta tetapi dilengkapi dengan data. Ada juga beberapa hasil wawancara dengan konsumen yang memperkuat fenomena-fenomena di atas. Saya berharap bisa mengaplikasikan prinsip marketing tersebut ketika punya usaha nanti. Aamiin.

Author: Ardiana Meilinawati

Indonesia, 1420. Mengaku seorang petualang yang sedang berhijrah menuju kehidupan abadi.

2 thoughts on “Tips Jualan Kelas Muslim Menengah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s