Jatah Rumah dan Seisinya

Sejak muncul berita maraknya Covid-19 di Indonesia, saya memilih untuk tidak terlalu mengikuti beritanya dan berusaha melakukan tindakan preventif meskipun kadang masih bandel. Tujuannya, biar saya nggak kemakan hoaks maupun disinformasi yang beredar, khawatir terbawa arus panic buying.

Sampai saat ini saya coba berpikir positif, mengambil hikmah dari wabah yang turut melanda bumi pertiwi. Munculnya wabah ini justru mendorong saya untuk pulang ke rumah. Sepertinya, rumah dan seisinya minta jatah ditinggali karena saya hanya menghabiskan waktu 2 minggu pada liburan semester lalu. Mungkin ini hikmahnya.

Sedihnya, rumah saya itu masuk dalam kawasan paling rawan (re: Kebayoran Baru, Jakarta Selatan berdasarkan beberapa situs berita). Ternyata begini rasanya khawatir antara mau pulang dan nggak bisa pulang. Mau pulang khawatir membawa wabah, nggak pulang khawatir lebaran sendiri di perantauan.

“Berapa lama waktu yang kau habiskan dengan keluarga?” kata si wabah.

“Giliran ada kesempatan, nggak segera pulang. Giliran kesempatan menipis, kamu berpikir untuk pulang!” tegurnya.

Wow, sakit rasanya. Menikmati kesendirian di saat kondisi normal itu berbeda jauh dengan saat kondisi genting. Sekarang kesendirian itu betul-betul saya rasakan karena tidak ada yang bisa dilakukan selain #DiIndekosAja. Kalau sudah begini, banyak-banyak istigfar. Mungkin virus ini datang untuk menegur saya…

Atau kalian juga merasakan hal yang sama?

Ketika Berbenah Menjadi Passion

img_6690

Di tengah pandemi ini, saya rasa buku karya Kondo-san (sapaan untuk orang lain dalam bahasa Jepang) bisa jadi referensi buat kita yang tengah work from home. Dalam bukunya The Life-changing Magic of Tidying Up, Marie “KonMari” Kondo memberikan tip bagi orang-orang yang kesulitan merapikan barang-barang di rumah. Yang membuat saya terkesima… Kondo-san sudah menekuni dunia berbenah sejak usia 5 tahun dan mengubahnya menjadi sebuah passion! Hal yang cukup unik bagi saya.

Oh iya, kalau kawan-kawan kurang suka menyelami tulisan bisa diganti dengan menonton serial Tidying Up with Marie Kondo di Netflix. Baik dalam serial maupun bukunya, Kondo-san menyampaikan konsep penting dalam berbenah yakni: Continue reading “Ketika Berbenah Menjadi Passion”

“Sekolah Biasa Saja”, kata Mas Toto.

Saya punya cita-cita mendirikan hal yang serupa dengan laboratoriumnya Mas Toto Rahardjo. Penulis dari buku “Sekolah Biasa Saja” ini justru menginspirasi saya untuk memberikan kontribusi terhadap endidikan di Indonesia. Beliau sendiri mengawali laboratorium pendidikannya karena kegelisahan praktik pendidikan Indonesia yang lebih seperti bisnis, mencetak anak-anak sesuai “standar”. Ibaratnya, mencetak another brick in the wall.

Dalam bukunya, Mas Toto menjelaskan konsep dasar sekolah yang dikutip dari beberapa tokoh pendidikan seperti Rabrindanath Tagore, Nyerere, dan tokoh kebanggaan negara kita yakni Ki Hajar Dewantara. Ketiganya menekankan bahwa sekolah seharusnya adalah taman. “Taman” di sini adalah tempat yang menciptakan suasana aman, nyaman, dan menyenangkan bagi pembelajar. Sekolah berasal dari kata schola yang berarti mengisi waktu luang. Dari sini kita bisa simpulkan bahwa sekolah seharusnya tidak membebani kita para pembelajar. Sekolah bukan perusahaan, bukan komoditi, bukan kompetisi dan tidak seperti mencetak batu bata.

Kalau kawan-kawan masih penasaran dengan pola berpikirnya Mas Toto ini, saya sarankan berkunjung ke daerah Bantul, Yogyakarta bukan untuk sekadar liburan tapi mampir juga ke SALAM. Sanggar Anak Alam atau SALAM ini melakukan praktik pendidikan yang berbeda dengan sekolah lainnya. Bisa dibilang SALAM adalah salah satu sekolah alternatif. SALAM menekankan proses belajar experiential learning dimana siswa-siswinya harus paham betul aplikasi dan manfaat dari ilmu yang didapatkan. Ilmu-ilmu tersebut terdiri dari ilmu sosial, ilmu bumi, ilmu hayat, ilmu alam, dan teknologi. Proses belajarnya dimulai dari perencanaan, pendampingan, dan presentasi. Di SALAM, peran orang tua sangat pentiing sebagai pendamping dan tidak ada yang namanya guru. Adanya fasilitator… hehehe.

Sejenak saya ingin kembali ke masa sekolah yang sesuai dengan praktiknya Mas Toto ini. Saya membayangkan sekolahnya lebih hidup karena seluruh elemen turut berperan di dalamnya baik orang tua, fasilitator, dan masyarakat sekitar. Tugas-tugas yang bersifat project atau eksperimen ini pasti mendorong rasa ingin tahu yang lebih tinggi. Terlebih lagi, lingkungan di SALAM sangat suportif.

Tapi saya tekankan, preferensi memilih sekolah itu bergantung pada visi dan misi setiap orang tua. Kalau mau jadi ulama, saya rasa sekolah Islam atau pesantren menjadi hal yang tepat. Kalau mau jadi polisi, ya pasti ke sekolah polisi… hehehe. Yang terpenting, sesuaikan dengan karakter anak-anak kita nantinya 🙂

Sekian dulu, semoga tulisan ini bisa sedikit memantik pikiran kalian!

Tips Jualan Kelas Muslim Menengah

Whoa, sudah lama saya tidak menulis di blog pribadi. Beberapa bulan ini saya memfokuskan diri untuk menerbitkan 1 buku fiksi dan 1 buku nonfiksi. Mohon doanya dan para pembaca harus jadi salah satu pembelinya… hehehe. Awal tahun ini tidak begitu padat bagi saya yang hanya ikut 2 mata kuliah dan mengerjakan skripsi. Agak membosankan sebenarnya, apalagi saya baru saja ditolak menjadi salah satu content writer intern. Ini kedua kalinya saya ditolak. Selain mencoba apply ke start up maupun perusahaan, saya juga memanfaatkan waktu ini untuk membaca buku. Kali ini, saya mau mengulas sedikit tentang buku Marketing to the Middle Class Muslim karya Yuswohadi, dkk. (2014). Continue reading “Tips Jualan Kelas Muslim Menengah”

Jalan-jalan ke Negeri di Atas Awan

Sampailah saya di akhir semester tujuh yang penuh perjalanan ini. Mulai dari hiking ke Penanggungan, ikut konferensi di Semarang, lomba di Jakarta hingga berkunjung ke ‘Negeri di Atas Awan’ alias Dataran Tinggi Dieng. Tulisan ini akan berbagi sedikit soal bagaimana kami (saya dan sahabat saya) bisa sampai ke Dieng. Sebelumnya, maaf jika waktu dan biaya perjalanan tidak semuanya pasti karena saya pun lupa-lupa ingat. Ditambah lagi ada drama kecil yang nanti kawan-kawan akan tahu sendiri. Estimasi biaya yang saya tuliskan adalah untuk 1 orang. Semoga pembaca semua bisa berkesempatan menghirup udara segar di sini! 🙂 Continue reading “Jalan-jalan ke Negeri di Atas Awan”

Pengasuhan Positif untuk ABK

Tepat tanggal 12 Oktober 2019, ada hal yang unik di fakultas. Saat dosen mengadakan seminar tentang anak gifted di lantai bawah,mahasiswa juga nggak mau kalah dengan mengadakan talkshow tentang pengasuhan ABK di lantai atas. Pemateri pada talkshow hari itu ialah salah satu dosen dari Fakultas Psikologi UNAIR dan perwakilan orang tua dari Yayasan Peduli Kasih ABK. Tujuannya, supaya audiens belajar tidak hanya dari segi teoretis tapi juga aplikasinya secara nyata di masyarakat. Continue reading “Pengasuhan Positif untuk ABK”

Pendidikan sebagai Sarana Menuju Sehat Mental

Berbicara soal kesehatan mental, tidak terlepas dari psikologi sebagai ilmu yang mempelajari proses mental dan perilaku manusia. Karena itu dosen saya selalu bilang, “Selama ada manusia, saat itulah psikologi bisa memberikan kontribusinya.” Asyiknya lagi, manusia sering ikut campur urusan yang ada di dunia. Nggak heran, karena manusia diciptakan untuk menjadi KHALIFAH di muka bumi. Entah kontribusi mereka membuat dunia menjadi lebih baik atau lebih buruk, itu urusan lain.

Karena banyak sekali urusan manusia di dunia, psikologi sebagai ilmu yang “objeknya adalah manusia” juga memiliki berbagai macam cabangnya. Sebagai penikmat bidang psikologi pendidikan dan perkembangan, saya jadi mikir, “Apa ya hubungannya kesehatan mental dengan praktik pendidikan kita?” Hayuk ikutan mikir sebelum baca ke postingan selanjutnya… Continue reading “Pendidikan sebagai Sarana Menuju Sehat Mental”