Tentang Cadar atau Niqab: Sebuah Resume Kajian

Kali ini, saya mau sharing sebuah resume kajian yang saya dapatkan di grup sebelah. Materi yang dikaji merupakan salah satu tema yang waktu itu saya dan sahabat saya kepoin. Resume kajian berikut disampaikan oleh Ibu Etty Sunanti. Beliau tergabung ke dalam Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Surabaya. Semoga bermanfaat, kawan-kawanku!


Alhamdulillah, sore tadi selesai sudah saya mengisi kajian muslimah yang diselenggarakan oleh adik-adik akhwat Immawati. Acara dimulai, ba’da shalat ashar berjama’ah di Masjid KH. Mas Mansyur Universitas Muhammadiyah Surabaya, hingga selesai saat adzan maghrib berkumandang. Continue reading “Tentang Cadar atau Niqab: Sebuah Resume Kajian”

Pilu karena Terlalu

Alhamdulillah, hari libur tiba. Hmm, terdengar agak aneh padahal saya memang sedang liburan. Maksudnya, hari libur tiba untuk orang-orang yang tengah memasuki hari kerja dan sekolah, salah satunya adik saya.

Minggu kali ini menyempatkan saya dan adik saya berbincang-bincang. Sebelum saya merantau ke Surabaya, 65% waktu kami digunakan untuk berantem, 15% untuk ngebanyol, dan sisanya akur. Semakin berkurangnya sisa hidup ini, Allah sering memberi kami kesempatan untuk saling bertukar pikiran mengenai hal apapun termasuk apa yang ada dalam tulisan ini. Pada saat itu, kami sedang menunggu kedatangan orangtua yang bertolak dari Denpasar, Bali. Kami berbicara mengenai virus kebencian. Tsah, berat banget bahasannya. Continue reading “Pilu karena Terlalu”

Menggapai Naluri Orangtua

Kemarin merupakan hari yang cukup melelahkan dan menyenangkan. Lelah karena menempuh perjalanan yang cukup jauh tetapi menyenangkan karena untuk pertama kalinya saya lakukan dalam satu hari. Terlebih lagi, saya membawa Mama yang kondisinya kurang sehat. Bikin dag-dig-dug deh tuh. Awalnya ragu tetapi Mama sendiri yang minta. Hehehe, saya tidak tega untuk menolak. “Yang penting Mama seneng dah”, gumam saya dalam hati. Continue reading “Menggapai Naluri Orangtua”

Terkadang

Terkadang, merantau agak jauh dari ibukota menghalangiku merasakan hal-hal manis bersama keluarga. Memilih jarang merasakan lagi kecupan hangat Ayah dan Mama tiap pagi, jarang mendengar canda dan tawa kedua saudara kandungku, jarang makan malam bersama di meja yang seharusnya cukup untuk enam orang tetapi dipenuhi oleh toples kerupuk di setiap sudutnya, dan hal-hal lain yang kini jarang aku rasakan. Mungkin aku masih merasakan, setidaknya ketika libur semester tiba.

Terkadang pula, merantau agak jauh dari ibukota merupakan hal yang tidak aku sesali. Memilih untuk aktif di kegiatan kampus, bersenda gurau dengan teman-teman, begadang mengerjakan tugas, dan hal-hal seru lainnya. Continue reading “Terkadang”

Pendidikan Inklusi sebagai Sarana Normalisasi

Entah kenapa di Jumat yang insyaa Allah berkah ini, saya tetiba teringat tentang disabilitas. Efek abis berpetualang di rumah sakit sepertinya. Apa hubungannya ya?

Sewaktu menyandang status sebagai anggota Badan Legislatif Mahasiswa Fakultas Psikologi UNAIR, saya mengikuti sebuah forum yang membahas segala aspirasi di lingkup fakultas. Topik yang paling menarik bagi saya ialah menyangkut rencana pendidikan inklusi di perguruan tinggi khususnya UNAIR. Continue reading “Pendidikan Inklusi sebagai Sarana Normalisasi”

Penikmat Ilmu: Makna Pencarian dan Pengamalannya

Walaupun terlihat sedikit usang, foto tersebut ialah koran favorit saya yang menjadi inspirasi tulisan kali ini. Saya tempel di jendela lemari berdampingan dengan surat pemberitahuan Ujian Nasional SMA. Dulu sengaja ditempel untuk memotivasi diri saya gitu. Maklum, sewaktu berada pada masa pertengahan remaja butuh banyak dukungan untuk mengerti arti belajar atau berilmu dan segala usaha untuk mendapatkannya.

Al-Fattah (dalam Pitung: Pituan Pitulung, 2017) menuliskan perkataan seorang tokoh asal Tenabang atau yang kita kenal dengan daerah Tanah Abang di Jakarta bernama Haji Naipin yang mengutip perkataan ulama-ulama terdahulu,

“Mencari ilmu itu dari buaian sampai ke liang lahat.” Continue reading “Penikmat Ilmu: Makna Pencarian dan Pengamalannya”

Coretan Awal di Akhir

Kurang lebih 18 tahun hidup di ibukota dan Kota Pahlawan membawa kesan yang sangat bermanfaat bagi diri saya. Berbagai pengalaman entah itu menimbulkan kebahagiaan atau keterpurukan, semua terlalui dengan banyak hikmah yang saya dapatkan. Ternyata mendapatkan inspirasi itu mudah, selama kita mau membuka mata karena terkadang mata hati kita terhalang oleh hawa nafsu. Continue reading “Coretan Awal di Akhir”